Malam tak pernah mati di tempat itu. Gelap itu seutuhnya di dalam sarcofagusku. Aku dengar dengkur di luar batu belahku yang mulai membuka perlahan seperti kerang mutiara. Rembulan bulat ganjil memantulkan cahaya putih yang tak berguna bagi penerangan, tetapi jauh lebih baik daripada tadi. Makhluk itu berbaring disana. Makhluk itu tak tampak seperti sebentuk makhluk. Ia tampak seperti seonggok potongan kain perca sampah yang dekil!
Aku keluar pelan-pelan, lalu lari sekencang-kencangnya. Cahaya dari kejauhan itu mulai mendekat saat kudengar raung amarah dari suara yang kini tak asing buat telingaku.
[baca lebih lengkap]
Metropop: Love, Hate & Hocus-Pocus
HATE at first sight. Itulah definisi yang tepat untuk menggambarkan Troy Mardian dan Gadis Parasayu. Mereka partner kerja yang dinamis---sedinamis gejolak permusuhan yang terus meletup di antara mereka berdua.
Lalu apa yang terjadi saat mereka terbangun pada suatu Minggu pagi cerah, dan mendapati diri mereka berada di ranjang yang sama dalam kondisi bak Adam dan Hawa saat pertama kali terdepak dari Firdaus---bugil, plus cincin kawin yang melingkari jari manis masing-masing, serta sepotong memori kabur tentang pernikahan yang mereka lakukan tiga belas hari yang lalu?!
[baca lebih lengkap]
Mata Giok (The Eye of Jade)
Mei, karakter dalam novel ini adalah detektif partikelir, satu jenis pekerjaan yang tak jamak dijumpai di Cina Daratan. Mei mempunyai sekretaris pria, yang juga jarang terjadi di negara paternalistik ini. Hilangnya "Mata Giok" membuka mata tentang Peristiwa Tiannamen dan sebuah nilai keluarga Cina pada masa lalu.
Diane menuturkan dengan kata yang indah dan sederhana, tetapi novel ini menjadi yang tak biasa - karena diilatar belakangi Peristiwa Tiananmen, situasi politik Cina, dan Maoisme.
[baca lebih lengkap]
The Naked Traveler
Kisah-kisah di buku ini menjadi semacam catatan kecil seorang backpacker yang mencoba mendokumentasikan pengalamannya dan membagikannya sebagai oleh-oleh.
Namun ironisnya pembuat vaksin adalah perusahaan yang ada di negara-negara industri, negara maju, negara kaya yang tidak mempunyai kasus flu burung pada manusia. Dan kemudian vaksin itu dijual ke seluruh dunia juga akan dijual ke negara kita.
[baca lebih lengkap]
40 Days In Europe
Buku ini berkisah tentang sekelompok anak muda yang berjuang mengenalkan budaya Indonesia melalui musik angklung. Siapa sangka, angklung yang terlihat sederhana dan bersahaja dapat tampil menggetarkan setiap panggung di negara-negara Eropa. Inilah kisah 35 musisi asal Indonesia yang tak pernah menyerah meski awalnya terancam batal berangkat ke Eropa. Namun, berbekal keberanian, kerja keras dan cerdas serta mimpi untuk membuat tim ini sejajar dengan musisi internasional lainnya, tak ada rintangan yang tak dapat dilalui. Meski tertatih, kelompok musisi yang membawa misi Expand the Sound of Angklung ini terus menebar pesona di seantero eropa. Berbagai kota mereka taklukkan dengan keindahan alat musik tradisional asli indonesia. Semua terkesan. Semua takjub dengan keajaiban yang bisa didatangkan sebuah instrumen musik. Pada akhirnya, misi budaya ini menegaskan identitas bangsa yang bisa berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lainnya.
[baca lebih lengkap]